Rusuh Yang Didesain: Sampai Kapan Geng Solo Dibiarkan Mengacau Negeri?

- Sabtu, 30 Agustus 2025 | 04:10 WIB
Rusuh Yang Didesain: Sampai Kapan Geng Solo Dibiarkan Mengacau Negeri?


Rusuh Yang Didesain: Sampai Kapan 'Geng Solo' Dibiarkan Mengacau Negeri?


Oleh: Edy Mulyadi

Wartawan Senior


Ledakan aksi protes 25 & 28 Agustus silam menandai babak baru ketegangan politik. 


Tuntutan agar Presiden Prabowo mundur terdengar keras di jalanan. Publik diguncang oleh video dramatis seorang pengemudi ojek online dilindas mobil barakuda Brimob. 


Affan Kurniawan, tulang punggung keluarga itu, tewas. Simpati ke rakyat membuncah. Teriakan “Turunkan Prabowo” pun makin lantang.


Banyak pihak awalnya menduga, bahkan meyakini, Jokowi dan lingkarannya ada di balik skenario ini. Sejumlah indikasi sudah lama tercium. 


Kader PSI berkali-kali melontarkan narasi menuntut Prabowo turun. Laskar cinta Jokowi pun ikut menyuarakan nada sama. 


Mereka menyebut Prabowo gagal menjaga keamanan negara dan sebaiknya mundur. Seolah semua kepingan puzzle ini tersusun rapi.


Di titik inilah publik mulai melihat pola. Kerusuhan bukanlah kejutan. Rusuh adalah outcome yang memang ditunggu oleh Geng Solo. Aksi massa dibiarkan liar, aparat digiring bertindak represif, lalu korban berjatuhan. 


Hasilnya? Legitimasi Prabowo tergerus. Narasi kegagalan kepemimpinan dibangun sistematis. Rezim lama yang enggan melepaskan cengkeraman kekuasaan sedang memainkan skenario busuk.


Di tengah duka dan marah itu, Laskar cinta Jokowi muncul. Mereka menuntut Prabowo mundur. Alasannya, dia gagal menjaga keselamatan rakyat. 


Sekilas tampak heroik. Tapi publik yang kritis pasti bertanya: kenapa tuntutan serupa tak pernah keluar saat tragedi jauh lebih dahsyat menimpa rakyat di era Jokowi?


Masih ingat tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022? Lebih dari 130 nyawa melayang, mayoritas anak muda. Gas air mata yang secara brutal ditembakkan polisi ke tribun dan pintu stadion dikunci jadi penyebab. 


Apakah waktu itu ada seruan lantang agar Jokowi mundur? Tidak ada. Justru narasi “jangan politisasi tragedi Kanjuruhan” yang digaungkan.


Belum lagi konflik agraria yang tak henti diproduksi. Dari Rempang, PIK 2, Morowali, Konawe, sampai Wadas


Rakyat dipukul, diusir, ditahan. Bahkan ada yang meregang nyawa demi mempertahankan sepetak tanah leluhurnya. 


Semua itu terjadi di masa Jokowi. Apakah Laskar cinta Jokowi atau gerombolan sejenis lain penyembahnya berteriak menyalahkan presiden? Apakah mereka menuntut Jokowi mundur? Lagi-lagi, tidak.


Inilah standar ganda Geng Solo. Kini kian terpampang jelas. Korban yang jumlahnya beratus kali lipat di masa Jokowi dianggap tak mengapa. 


Mungkin cuma dihitung sebagai angka statistik. Sebaliknya korban di masa Prabowo dijadikan senjata politik. 


Padahal akar persoalannya sama: kultur aparat yang brutal, negara yang tunduk pada oligarki, serta kebijakan pembangunan yang menyingkirkan rakyat kecil. Bedanya, kini tragedi dijadikan pintu masuk untuk melemahkan Prabowo.


Gorengan Politik


Tidak bisa dipungkiri, kerusuhan di penghujung Agustus ini memang memberi keuntungan politik bagi Geng Solo. Dengan adanya korban, narasi “Prabowo gagal” lebih mudah digoreng. 


Aksi yang panas memberi ruang bagi pihak yang sejak awal ingin delegitimasi. Maka wajar bila publik menduga ada skenario, bahkan pesanan, di balik eskalasi ini.


Inilah cara klasik Jokowi. Menciptakan masalah, lalu menuding penggantinya tak becus mengelola negara.


Padahal semua bom waktu itu justru warisan yang diatinggalkan olehnya. Utang menumpuk. 


Proyek triliunan mangkrak. Harga pangan dan aneka kebutuhan pokok tak terkendali. Hukum kacau, tajam ke bawah tumpul ke atas. Olgarki makin rakus dengan karpet merah yang digelar penguasa.


Kini ketika rakyat menjerit digempur berbagai kesulitan hidup. Jokowi dan gengnya dengan licik mengalihkan sorotan: Prabowo dianggap gagal. Prabowo dituding tak mampu. Prabowo diseret agar jatuh.


Dalam delapan bulan kekuasaannya, Prabowo memang bisa dianggap salah. Publik yang tak sabar atas kelakuan Jokowi, merasa Presiden terlampau lamban. Harusnya dalam 100 hari pertama Prabowo sudah menyapu bersih anggota Gang Solo. 


Kapolri, Menteri Keuangan, Jaksa Agung, LBP masuk daftar paling atas. Selanjutnya secara bertahap menteri eks inventaris Jokowi dibabat habis.


Tapi, harapan itu sepertinya kian jauh dari kenyataan. Bisik-bisik bahwa Prabowo disandera makin lama makin nyaring saja. Karena itukah dia jadi seperti kucing yang tak bisa mengaum?


Liciknya Geng Solo


Di sisi lain, kita juga harus jujur mengakui ada sejumlah gebrakan. Upah buruh naik 6,5%. Utang petani dan nelayan dihapuskan. 


ebun-kebun sawit milik oligarki yang diperoleh dengan tidak sah diambil alih. Sebentar lagi konon giliran tambang yang ditertibkan. Ada makan bergizi gratis (MBG) yang niatnya mulia tapi babak-belur di tataran eksekusi.


Dengan potret semacam itu, rasanya tidak fair juga kalau menumpukan semua kesalahan pada pundak Prabowo. Tapi di situlah kelicikan Jokowi bekerja. Buat negara gaduh dan rakyat resah. 


Lalu sorong narasi bahwa Prabowo gagal. Prabowo harus diturunkan. Penggantinya? Siapa lagi kalau bukan Gibran?


Strategi ini berbahaya. 


Pertama, Jokowi merusak kepercayaan publik pada negara. 


Kedua, dia membuka ruang instabilitas sosial yang bisa meluas. 


Ketiga, finalis koruptor dunia versi OCCRP itu sengaja menjerumuskan bangsa ke jurang konflik hanya demi kepentingan diri dan keluarganya. Semua ini menunjukkan betapa berbahayanya ambisi mempertahankan bayang-bayang kekuasaan.


Prabowo harus sigap. Ia tak boleh terperangkap jebakan Jokowi. Dia mesti membalikkan keadaan dengan dua langkah kunci. 


Pertama, tampil tegas memutus jarak dari lingkaran lama. Jokowi dan Geng Solo-nya harus diperlakukan sebagai bagian dari masalah. Bukan partner.


Kedua, dia harus segera mengayomi rakyat. Turunkan tensi dengan tegakkan keadilan. Terbitkan berbagai kebijakan yang berpihak pada rakyat. 


Kendalikan aparat agar tak terus-terusan bertindak brutal. Perlakukan suara-suara kritis sebagai mitra. Bukan musuh.


Rakyat Harus Awas dan Cerdas


Bagi rakyat, kesadaran ini penting. Jangan terprovokasi skenario licik rezim lama. Aksi protes tetap harus dijaga damainya. 


Fokus pada menekan kebijakan. Bukan terjebak chaos yang justru menguntungkan Geng Solo. Yang perlu rakyat pahami, kerusuhan adalah bahan bakar utama Geng Solo untuk mendelegitimasi Prabowo.


Al-Qur’an sudah mengingatkan:


وَلَا تَرْكَنُوْۤا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّا رُ ۙ وَمَا لَـكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ


“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud 11: Ayat 113)


Ayat ini pas untuk konteks hari ini. Jangan bersandar pada orang-orang zalim yang sudah terbukti menipu rakyat. 


Jokowi dan geng Solo harus ditinggalkan. Jika tidak, bangsa ini akan terus jadi korban skenario licik mereka.


Kini, bola panas ada di tangan Prabowo. Apakah dia berani menalak tiga lingkaran jahat itu, atau justru membiarkan diri dalam penyandraan? ***


👇👇




Komentar