“Hendaklah memilih tutur kata dan bahasa yang baik dan santun. Pepatah lama, bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan moral,” ungkapnya.
Ia menegaskan, sebenarnya banyak pilihan diksi yang lebih tepat untuk menyampaikan pendapat di ruang publik tanpa terkesan menggurui atau melukai pihak lain. Bahasa yang digunakan seharusnya mampu memberi semangat dan harapan.
“Masyarakat, pejabat, dan publik figur saat ini perlu mencontoh teladan dari para ulama,” tutur KH Ikhsan.
Latar Belakang Polemik Pernyataan Dahnil Anzar
Polemik ini berawal ketika Dahnil Anzar dalam sebuah forum menanggapi pernyataan KH Anwar Abbas mengenai kebijakan kontroversial penunjukan hanya dua perusahaan penyedia layanan haji. Dalam tanggapannya, Dahnil menyebut kritik Anwar Abbas dengan istilah “cangkemnya” dan menyatakan bahwa sang kiai sepuh dinilai tidak memahami persoalan haji.
Pernyataan itu langsung menuai reaksi keras karena dinilai tidak menjawab substansi kritik yang diajukan. Sebelumnya, KH Anwar Abbas mengingatkan pemerintah agar tidak menyerahkan pelayanan ratusan ribu jemaah haji Indonesia hanya kepada dua perusahaan. Peringatan itu disampaikan demi menghindari risiko monopoli dan meningkatkan kualitas layanan haji.
Alih-alih memberikan penjelasan teknis atau argumentasi kebijakan, respons Dahnil justru dinilai bernada mengejek dan negatif. Hal ini memicu kritik beruntun dari berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh organisasi keagamaan terkemuka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Dahnil Anzar Simanjuntak terkait berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Pemerintah juga belum menyampaikan sikap resmi atas polemik etika pejabat ini.
Artikel Terkait
Desak Prabowo Copot Dahnil Anzar, Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Cangkem ke Anwar Abbas
Anies Baswedan Ajak Foto Bareng Intel di Karanganyar, Respons Santainya Viral
Prabowo Ultimatum Koruptor: Saya Hanya Takut Sama Tuhan dan Rakyat
Pertemuan Prabowo dengan Abraham Samad & Susno Duadji: Ini Penjelasan Istana