Kontroversi Trump Center: Protes Seniman & Analisis Hukum Penggantian Nama Kennedy Center

- Kamis, 01 Januari 2026 | 11:00 WIB
Kontroversi Trump Center: Protes Seniman & Analisis Hukum Penggantian Nama Kennedy Center

Politik vs Budaya: Transformasi Lembaga Seni di Era Trump

Insiden ini bukanlah yang pertama. Pemerintahan Trump sebelumnya telah melakukan berbagai intervensi dalam lembaga budaya, mulai dari restrukturisasi dewan direksi, pengurangan program multikultural, hingga tekanan pada konten acara. Namun, penggantian nama gedung ini dinilai sebagai eskalasi dari intervensi konten menjadi perampasan simbolis secara penuh.

Kennedy Center, yang seharusnya menjadi ruang budaya publik yang netral dan melampaui batas partai, kini berubah menjadi medan pertarungan politik. Peristiwa ini mengungkapkan pandangan budaya yang mengkhawatirkan di mana warisan publik dan memori nasional dapat dibranding ulang untuk kepentingan tertentu.

Makna Dibalik Pengunduran Diri Kolektif Para Seniman

Pengunduran diri massal para seniman bukan sekadar protes. Tindakan ini merupakan reaksi kekebalan masyarakat beradab dan pertahanan atas otonomi dunia seni. Ketidakhadiran mereka adalah karya performa paling kuat tentang martabat, kemandirian, dan perlawanan terhadap upaya penguasaan budaya oleh kekuasaan politik.

Kesimpulan: Warisan Sejati Bukan Terpahat di Batu

Kontroversi penggantian nama Kennedy Center menjadi Trump Center mencerminkan polarisasi politik yang dalam di Amerika Serikat. Huruf-huruf emas di fasad gedung mungkin akan menjadi metafora bagi sebuah era: upaya tergesa-gesa untuk mengukir nama dalam sejarah, namun melupakan bahwa warisan sejati bertahan dalam rasa hormat dan memori kolektif masyarakat, bukan pada plakat atau pahatan batu. Setiap upaya memaksakan grafiti politik pada budaya pada akhirnya hanya akan menjadi dekorasi sementara yang memudar oleh waktu.

Halaman:

Komentar