Ketua GP Ansor Jepara saat itu, H. Syamsul Anwar, menegaskan bahwa sikap penolakan diambil semata-mata untuk menjaga kondusivitas dan keamanan daerah. Kekhawatiran utama mereka adalah potensi acara tersebut ditunggangi oleh elemen-elemen tertentu.
Beberapa poin yang menjadi perhatian GP Ansor antara lain:
- Beredarnya atribut yang mirip dengan bendera organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jepara menjelang acara.
- Kekhawatiran adanya konsolidasi massa dari kelompok eks-HTI dalam acara pengajian UAS tersebut.
Sebagai bentuk komitmen, GP Ansor meminta kepolisian memastikan Bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan dalam acara tersebut. Ribuan anggota Banser juga menggelar apel kebangsaan dan doa bersama di Lapangan Desa Ngabul, Jepara, sebagai simbol menjaga NKRI.
Akhir Cerita: Pembatalan dan Saling Klaim
Pada akhirnya, UAS membatalkan jadwal ceramahnya di Pondok Pesantren Al-Husna Mayong, Jepara. Pihak UAS menyatakan pembatalan akibat adanya intimidasi, klaim yang dibantah tegas oleh pengurus GP Ansor Jepara. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan sejarah hubungan antara figur dakwah tertentu dengan organisasi massa Nahdlatul Ulama.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana dan Pengkhianatan Politik: Analisis Betrayal Personality dalam Sejarah Indonesia
Latihan Militer China, Rusia, Iran di Afrika Selatan: Tujuan, Dampak & Analisis Geopolitik 2026
Target Nol Keracunan MBG 2026 BGN: Kontroversi Garansi Allah & Analisis Lengkap
Donald Trump Tolak Hukum Internasional: Hanya Ikuti Moralitas Pribadi dan Ambisi Greenland