Roy kemudian memaparkan perhitungan detailnya. Dengan asumsi beban studi maksimal 18 SKS per semester dan total beban kurikulum sekitar 150 SKS, maka waktu tempuh teoretisnya adalah sekitar 4,5 tahun.
"Dibagi 18, berapa tahun? Hampir 4,5 tahun. Itu harus dikurangi KKN yang berlangsung satu semester sendiri, lalu dikurangi lagi waktu pengerjaan skripsi," sambungnya. Faktor-faktor non-kuliah ini, menurutnya, membuat target 5 tahun dengan IPK pas-pasan semakin sulit tercapai.
Perbandingan dengan Fakta di Lapangan
Untuk memperkuat argumennya, Roy Suryo menyebutkan contoh dari Fakultas Kehutanan UGM. Ia menuturkan bahwa tiga dosen pengajar dari fakultas tersebut justru membutuhkan waktu studi lebih dari lima tahun untuk menyelesaikan pendidikannya.
Dengan membandingkan fakta ini, Roy semakin yakin bahwa klaim lulus 5 tahun dengan IPK 2,5 adalah sebuah kebohongan. "Masa seseorang itu bisa lulus 5 tahun dengan IP 2,5 lebih sedikit? Jadi ini saya kira harus dibongkar," pungkas Roy Suryo.
Pernyataan pakar telematika Roy Suryo ini kembali memanaskan perbincangan publik mengenai keabsahan ijazah dan transparansi rekam jejak akademik pejabat publik.
Artikel Terkait
Kekayaan Dahnil Anzar Simanjuntak: Rp27,89 Miliar & 7 Mobil, Viral Naik KRL
Pengeroyokan Guru SMK di Jambi: Kronologi Lengkap, Penyebab, dan Pengakuan Siswa Soal Hinaan
Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol: 21 Tewas dalam Tabrakan di Adamuz, Kronologi & Penyebab
Keraton Solo Ricuh: Kronologi Lengkap Penyerahan SK Cagar Budaya oleh Fadli Zon