Kenaikan ini didorong oleh peningkatan komponen pesanan baru (new orders) dari 51,7 menjadi 52,3. Sementara itu, tingkat ketenagakerjaan juga meningkat dari 50,7 ke 51,3, menunjukkan penyerapan tenaga kerja pada laju tercepat sejak Mei 2025.
Kekuatan Konsumsi Domestik Jadi Motor Utama
Di tengah pelemahan ekspor akibat permintaan dari pasar utama seperti AS dan Eropa, kekuatan konsumsi dalam negeri menjadi penggerak utama industri. Aktivitas produksi (output) tetap stabil di level 50,0, menunjukkan pelaku industri menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar.
Kemenperin juga menyoroti upaya pelaku industri dalam menjaga daya saing. Meski inflasi harga input mencapai level tertinggi dalam delapan bulan, kenaikan harga jual oleh produsen masih terbatas. Hal ini membantu menahan inflasi di tingkat konsumen dan menjaga produk dalam negeri tetap kompetitif.
Posisi Indonesia dalam Peta Manufaktur Regional dan Global
Dalam konteks regional, PMI manufaktur ASEAN meningkat ke 51,6. Posisi Indonesia (51,2) berada di zona ekspansi bersama Thailand (56,6), Vietnam (54,5), dan Myanmar (53,1). Negara besar seperti China (51,2) dan India (57,7) juga menunjukkan ekspansi, menandakan stabilisasi aktivitas manufaktur global.
Kemenperin menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan indikator manufaktur sebagai dasar kebijakan. Sektor manufaktur diyakini akan tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional, dengan fokus pada penciptaan iklim usaha yang kondusif, peningkatan daya saing, serta transformasi menuju industri hijau dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002: Fakta, Lokasi, & Kaitannya
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Girik, Letter C, Petuk Harus Konversi ke SHM
Berkas Epstein Dibuka: Memo FBI Sebut Trump Dikendalikan Israel, Benarkah?
Hasil Investigasi Polda Metro: Bhabinkamtibmas Tak Aniaya Penjual Es Gabus