Sejarawan Anhar Gonggong: Tayangan Trans7 Harus Jadi Bahan Renungan Pesantren
Sejarawan dan akademisi terkemuka Indonesia, Anhar Gonggong, memberikan perspektif unik terkait kontroversi tayangan Trans7 yang dinilai melecehkan kiai, santri, dan pesantren. Berbeda dengan gelombang protes dan boikot yang terjadi, Anhar justru melihat momentum ini sebagai kesempatan berharga untuk introspeksi.
Pesantren Perlu Buka Diri Terhadap Kritik
Menurut Anhar, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas keagamaan seharusnya tidak bereaksi secara emosional. Justru tayangan tersebut patut dijadikan bahan diskusi mendalam untuk evaluasi internal lingkungan pesantren.
"Yang melihat lingkungan pesantren harus menjadikannya sebagai bahan perenungan untuk memperbaiki. Bagaimana seharusnya pengelolaan pesantren itu? Apakah ada kesopanan, dan sebagainya," tegas Anhar dalam kanal YouTube pribadinya.
Kiai Juga Manusia Biasa yang Tak Luput dari Salah
Anhar mengingatkan bahwa kiai atau guru agama tetap manusia biasa yang tidak dijamin terbebas dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, pesantren perlu membuka diri terhadap kritik konstruktif, terutama ketika ada ritual atau kebiasaan yang dinilai kurang sesuai dengan esensi Islam.
"Misalnya memberikan sesuatu lalu dilemparkan begitu saja. Lalu ada murid yang datang untuk mengambil sesuatu harus jongkok. Apakah itu bentuk kesopanan yang diajarkan Islam?" tanyanya retoris.
Artikel Terkait
Kisah Sudrajat: Rumah Ambrol di Bogor, Anak Putus Sekolah & Bantuan yang Mengalir
Kisah Pilu Sudrajat di Bogor: Rumah Lapuk Jebol & 3 Anak Putus Sekolah
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Cederai HAM dan Hukum Internasional
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Ancam Kepemimpinan di Dewan HAM PBB?