Calon Deputi Gubernur BI ini diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Juda Agung. Selain nama Thomas Djiwandono, Presiden juga menyodorkan dua nama lainnya, yaitu Dicky Kartikoyono dan Solihin M Juhro.
Pencalonan Tommy, yang juga merupakan keponakan Presiden Prabowo, sebelumnya menuai sorotan dan kritik dari berbagai kalangan. Kekhawatiran utama berpusat pada potensi konflik kepentingan dan ancaman terhadap independensi BI jika seorang kader partai politik aktif menduduki posisi strategis di bank sentral.
Meredam Kontroversi dan Menjaga Netralitas BI
Langkah pengunduran diri Thomas Djiwandono dari Partai Gerindra dipandang sebagai upaya strategis untuk meredam kontroversi dan menjawab tuntutan netralitas institusi Bank Indonesia. Dengan status non-partisan ini, proses fit and proper test dan konfirmasi calon di DPR RI diharapkan dapat berjalan dengan fokus pada kapasitas dan kompetensi profesional.
Isu independensi bank sentral tetap menjadi faktor krusial yang akan diawasi ketat oleh publik, akademisi, dan pelaku pasar keuangan dalam proses selanjutnya.
Artikel Terkait
Restorative Justice Kasus Ijazah Jokowi Dinilai Blunder: Analisis dr Tifa & Refly Harun
Gerakan Rakyat Usung Anies Baswedan Capres 2029, Demokrat Pertanyakan Lolos Verifikasi KPU
Pertemuan Jokowi dengan Damai-Eggi: Kesepakatan Rahasia Soal Kasus Ijazah Palsu?
Walikota Madiun Maidi Ditahan KPK: Fakta OTT Proyek dan Izin yang Menggemparkan