SBY secara khusus menyoroti ancaman eskalasi menjadi perang nuklir yang dapat membawa kehancuran total. Ia mengutip berbagai studi yang memprediksi korban jiwa bisa melampaui lima miliar orang jika perang dunia disertai penggunaan senjata pemusnah massal tersebut.
"Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia," tegasnya mengenai dampak terburuk skenario tersebut.
Seruan Tindakan Nyata: Doa Saja Tidak Cukup
Mantan Presiden SBY menegaskan bahwa meski berharap pada kekuatan doa, upaya manusiawi dan politik tetap menjadi kunci. Doa miliaran umat, menurutnya, tidak akan bermakna tanpa diikuti tindakan kolektif bangsa-bangsa di dunia untuk secara aktif menyelamatkan perdamaian.
"Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya," serunya.
Usulan Konkret: Sidang Umum Darurat PBB
Sebagai langkah konkret untuk mencegah krisis, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly). Sidang yang mempertemukan para pemimpin dunia ini harus fokus pada langkah-langkah nyata mencegah eskalasi global, termasuk potensi pecahnya perang dunia baru.
"Saya tahu, saat ini PBB boleh dikata tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran," ujar SBY.
Ia optimistis bahwa seruan ini dapat menjadi pemicu kesadaran dan kehendak kolektif global. Pesan penutupnya mengingatkan prinsip penting: "If there is a will, there is a way" (di mana ada kemauan, di situ ada jalan).
Artikel Terkait
Gerakan Rakyat Dukung Anies Baswedan Capres 2024, Target Jadi Partai Politik 2026
Polemik Ijazah Jokowi 2026: Sidang PN Surakarta, Kesaksian Mantan Wakapolri, dan Perubahan Sikap Tokoh
KPK Didesak Tetapkan Bos Maktour Fuad Masyhur Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji
Gibran Santai Tanggapi Roasting Pandji di Mens Rea: Lucu, Nomor Satu di Netflix