Hal ini dinilai bertolak belakang dengan perintah tegas Presiden Prabowo Subianto yang tanpa kompromi terhadap judol. "Perintah Presiden Prabowo sangat jelas: berantas judi online tanpa toleransi. Namun fakta di lapangan, setelah hampir satu tahun, kita tidak melihat tanda-tanda keberhasilan yang nyata. Judi online justru semakin vulgar dan sistematis," tutur Aminullah.
Kritik atas Absennya Diplomasi Digital
Aminullah juga mengkritik kurangnya langkah diplomasi dan kerja sama internasional yang serius dari Kemenkominfo. Menurutnya, perlu ada tekanan bilateral dan kerja sama intelijen siber yang masif dengan negara-negara yang menjadi pusat operasi judi online, seperti Kamboja.
"Kami tidak melihat adanya diplomasi digital yang agresif. Negara seolah kalah langkah dari bandar judol. Ini ironi besar," katanya.
Aminullah menegaskan bahwa dampak judol sangat merusak. "Setiap hari rakyat kecil kalah, keluarga hancur, dan generasi muda dirusak. Jika negara absen atau lemah, maka pejabat yang bertanggung jawab tidak layak terus bertahan," pungkasnya menuntut pertanggungjawaban.
Artikel Terkait
Gibran Santai Tanggapi Roasting Pandji di Mens Rea: Lucu, Nomor Satu di Netflix
Tifatul Sembiring Bela Pandji Pragiwaksono: Jangan Cari-cari Delik Hukum, Generasi Muda Punya Cara Kritik Sendiri
SP3 Eggi Sudjana & Damai Lubis: Dokter Tifa Kritik Keras Abuse of Power Pasca Sowan ke Jokowi
Ferdinand Hutahaean Tantang KPK Panggil Jokowi: Analisis Kasus Korupsi Kuota Haji