Menurutnya, kerjasama PDIP dan PPP bukan baru kali ini saja dibangun. Namun, telah terjadi sejak tahun 1997 yang akhirnya muncul reformasi.
"Dan Ibu Mega punya komitmen ketika jadi presiden, wakilnya Hamzah Haz, ini fakta sejarah. Kedua, kerja sama lagi di Jateng Pak Ganjar sama Gus Yasin, PDIP dan PPP. Karena itu kerjasama ini harus dilajutkan menjadi presiden dan wakil presiden. Semoga wakilnya dari PPP," tuturnya.
Ketiga, alasan kultural. Rusli menyebut bahwa Ganjar Pranowo terlahir dari kultur Nahdlatul Ulama (NU). Istrinya Siti Atiqoh Supriyanti merupakan anak dari Kyai NU yang juga pengurus PPP Purbalingga, Akhmad Musodik Supriyadi.
"Jadi kedekatan emosional ini sudah sangat panjang, karena itu bagi PPP, Pak Ganjar Pranowo adalah persaudaraan meskipun tidak ada pertalian darah. Jadi ini kultur," ujarnya.
Lebih lanjut, kata dia, Indonesia merupakan negara besar yang harus dipimpin oleh sosok berkualitas dan memikirkan masa depan bangsa serta meneruskan program Presiden Jokowi.
"Karena itu orang yang memimpin Indonesia ke depan itu nasionalisnya tidak perlu pertanyakan. Dan religiusnya tak perlu kita pertanyakan (Ganjar Pranowo)," pungkasnya.
Sumber: suara
Artikel Terkait
KPK Didorong Periksa Jokowi sebagai Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji: Analisis Hukum & Fakta
Kontroversi Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Analisis Tudingan Antek Asing hingga Isu Pengalihan
Mahfud MD Beberkan Dugaan Jual Beli Kuota Haji Furoda Rp 60 Juta per Jamaah
Strategi PDIP 2029: Analisis Lengkap Peta Politik & Peluang Koalisi