Gubernur yang akrab disapa KDM ini mengkritik keras kesalahan tata ruang yang telah berlangsung lama. Ia menegaskan bahwa kawasan dengan topografi curam seperti di Cisarua tidak layak dijadikan kawasan budidaya sayuran secara intensif.
"Kita sudah salah dari awal tata ruangnya, harus dibenahi berulang-ulang saya katakan. Daerah seperti ini tidak layak jadi kebun sayur, layaknya jadi hutan bambu," ujarnya.
Dedi Mulyadi menambahkan, pembangunan yang dilakukan tanpa memperhitungkan mitigasi bencana telah memperbesar risiko di wilayah rawan longsor. "Kita sudah lama membangun tanpa mitigasi bencana. Sejak awal tata ruangnya salah," katanya.
Proses Pencarian Korban dan Kondisi Lokasi
Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan masih terus berlangsung. Pencarian dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat kondisi tanah di lokasi longsor Cisarua masih labil dan berpotensi terjadi longsor susulan.
Hingga Sabtu sore, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 8 korban meninggal dunia. Upaya pencarian terhadap warga yang diduga masih tertimbun material longsor terus diprioritaskan dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh petugas.
Bencana longsor di Bandung Barat ini kembali menyoroti pentingnya penataan ruang yang berwawasan lingkungan dan pengendalian alih fungsi lahan di kawasan lereng dan hutan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Artikel Terkait
Henti Jantung Mendadak: 4 Penyebab, Cara Mencegah, dan Gejala Awal yang Wajib Diketahui
Lokasi Tuhan Menurut Ilmuwan Harvard: 439 Miliar Triliun Km di Cakrawala Kosmik?
Irjen Johnny Eddizon Isir Jadi Kadiv Humas Polri Baru: Profil, Karier, dan Mutasi Kapolri
Tanah Longsor Bandung Barat 2026: 8 Tewas, 82 Orang Hilang - Update Korban & Penyebab