Posisi Iran mendapat dukungan dari sekutunya, Rusia. Perwakilan tetap Rusia di PBB, Vasily Nebenzya, menyebut retorika AS berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Sementara itu, China turut angkat bicara dengan mendesak semua pihak untuk menahan diri, guna menghindari situasi "hukum rimba" yang dapat memperluas konflik di kawasan Asia Barat.
Pergerakan Militer AS dan Komunikasi Intensif dengan Sekutu Regional
Ketegangan diplomasi diiringi laporan pergerakan militer. Sumber berita melaporkan setidaknya satu gugus tugas kapal induk AS dikerahkan mendekati Timur Tengah, sebagai persiapan opsi militer. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi semua opsi sedang dipantau dan disampaikan kepada Presiden Trump.
Di balik layar, komunikasi intensif terjalin antara Gedung Putih dengan pemimpin negara-negara kunci seperti Mesir, Oman, Arab Saudi, dan Qatar. Mereka dilaporkan memperingatkan bahwa intervensi militer AS di Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global dan mengganggu stabilitas regional yang sudah rapuh.
Korban Jiwa dan Situasi Terkini
Kelompok hak asasi manusia mencatat korban jiwa dalam protes di Iran telah mencapai angka yang signifikan. Meski situasi di Teheran dilaporkan mulai mereda, kehadiran aset militer AS di kawasan tetap menjadi fokus perhatian dunia, mengisyaratkan bahwa krisis antara Washington dan Teheran belum berakhir.
Artikel Terkait
Prediksi Gaji Sri Mulyani di Gates Foundation: Tugas, Kompensasi, dan Analisis Posisi Baru
Foto Satelit AS ke Malaysia Bikin Warganet Khawatir: Kami Cuma Punya Minyak Goreng!
Roy Suryo Pakai Louis Vuitton ke Polda, Kembali Tuntut Ijazah Jokowi Dibuka
ASN Dinas Pendidikan Indramayu Ditahan, Tersangka Korupsi Bantuan PKBM Rp 1,4 Miliar