Operasi Southern Spear dan Mobilisasi Militer
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan pada Kamis (13/11/2025) bahwa AS akan memulai misi baru bernama "Operasi Southern Spear" dengan tujuan memberantas "teroris narkotika dari belahan bumi kita." Dalam posting media sosialnya, Hegseth menegaskan: "Presiden Trump memerintahkan tindakan - dan Departemen Perang sedang melaksanakannya."
Laporan media mengungkapkan bahwa Trump telah diberikan pilihan untuk operasi militer di Venezuela, termasuk serangan darat, oleh pejabat militer senior dalam pertemuan di Gedung Putih. Washington juga mengumumkan pengiriman kapal perang dan kapal selam ke lepas pantai Venezuela.
Respons Venezuela dan Mobilisasi Pertahanan
Menanggapi ancaman ini, Maduro mengumumkan pengerahan pasukan sebanyak 4,5 juta orang di seluruh Venezuela. Pada Selasa lalu, Venezuela menyatakan bahwa militernya telah tersebar secara intensif di seluruh negeri untuk menanggapi apa yang disebutnya "imperialisme" AS.
Mobilisasi tersebut mencakup penyebaran intensif sarana darat, udara, laut, sungai, rudal, sistem persenjataan, unit militer, dan milisi Bolivarian yang terdiri dari warga sipil dan mantan militer.
Kontroversi Serangan AS di Karibia
Selama dua bulan terakhir, militer AS telah melakukan serangan mematikan terhadap setidaknya 21 kapal yang diklaim mengangkut narkoba dari Amerika Selatan ke AS. Serangan-serangan ini, yang mengakibatkan 80 kematian, telah memicu perdebatan internasional mengenai pembunuhan di luar hukum, terutama karena Washington tidak memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran tersebut benar-benar digunakan untuk menyelundupkan narkoba.
Artikel Terkait
Alfarisi Meninggal di Rutan Medaeng: Kronologi, Dugaan Pelanggaran, dan Tanggapan KontraS
Ramalan Dukun Peru 2026: Trump Sakit Parah & Maduro Kabur dari Venezuela?
Crypto Presale 2024: Tren Berpindah dari Hype ke Utilitas Nyata
Effendi Gazali Prediksi Kasus Ijazah Jokowi Baru Selesai 2035-2036, Ini Analisisnya