Penguatan harga emas dipicu meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Beberapa gubernur The Fed telah memberikan sinyal dovish dalam testimoni pada Jumat (24/10/2025).
"Mereka mengindikasikan bahwa kemungkinan Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga. Itu dilihat dari data inflasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi," jelas Ibrahim.
Dari data inflasi yang keluar, ekspektasi pasar berada di level 3,1 persen sementara realisasi hanya 3 persen. Ibrahim memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan.
2. Ketidakpastian Politik di AS
Shutdown pemerintahan federal AS yang telah berlangsung lebih dari 24 hari turut mendorong penguatan harga emas. Situasi politik yang tidak pasti ini meningkatkan daya tarik emas sebagai safe haven.
3. Eskalasi Konflik Rusia-Ukraina
Konflik geopolitik kembali memanas setelah Rusia melakukan serangan sporadis di wilayah Donetsk dan Dombas. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru di pasar dan mendorong bank-bank sentral global kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.
"Campur tangan NATO, Inggris, dan Amerika ini akan membuat terjadinya Perang Dunia Ketiga. Nah ini yang membuat harga emas kemungkinan melonjak tinggi," papar Ibrahim.
Dengan berbagai faktor pendukung ini, prospek harga emas dalam jangka pendek hingga menengah tetap optimis, menjadikannya instrumen yang menarik untuk diperhatikan oleh investor.
Artikel Terkait
Kisah Sudrajat: Rumah Ambrol di Bogor, Anak Putus Sekolah & Bantuan yang Mengalir
Kisah Pilu Sudrajat di Bogor: Rumah Lapuk Jebol & 3 Anak Putus Sekolah
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Cederai HAM dan Hukum Internasional
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Ancam Kepemimpinan di Dewan HAM PBB?