Fatta mengungkapkan, jika Jokowi memilih untuk tidak mengambil langkah tegas dan justru "menikmati" dinamika polemik ini, hal tersebut berpotensi menguntungkan secara politik bagi keluarganya. Salah satu keuntungan strategisnya adalah terpeliharanya polarisasi masyarakat.
"Masyarakat dibiarkan terpolarisasi. Orang yang fanatik sama Pak Jokowi, dia akan terus mengingat dan melakukan pembelaan," jelas Nurul Fatta. Karakter publik Indonesia yang mudah tersentuh secara emosional dinilai membuat isu seperti ini memiliki daya tahan panjang di ruang publik.
Kaitan dengan Politik Elektoral Masa Depan
Lebih lanjut, analisis ini mengaitkan fenomena polemik dengan masa depan politik elektoral. Selama isu ijazah Jokowi terus hidup, ingatan dan loyalitas emosional sekelompok masyarakat terhadapnya akan tetap terjaga. Kelompok pendukung fanatik ini, menurut Fatta, dapat menjadi ceruk suara yang potensial dalam kontestasi elektoral mendatang.
"Sehingga, kelompok masyarakat yang seperti ini masih bisa dijadikan basis dukungan dalam politik elektoral nanti," pungkas Nurul Fatta.
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Pakai Materai Rp100 vs Rp500, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Jubir PSI
SP3 Terbit untuk Damai Hari Lubis: Status Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Dicabut Polda Metro
Kunjungan Rahasia Eggi Sudjana & Damai Lubis ke Jokowi Disebut Aib dan Pengkhianatan
KPK Didorong Periksa Jokowi sebagai Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji: Analisis Hukum & Fakta