Hendri menilai pembiaran kasus ini dapat menjadi gambaran buruk wajah penegakan hukum di bawah pemerintahan Prabowo. Ia menegaskan perlunya kejelasan status hukum Silfester, apakah sudah selesai atau memang harus dieksekusi, agar tidak mengganggu citra pemerintah di bidang hukum.
3. Beban Utang Proyek Kereta Cepat Whoosh (KCIC)
Isu ketiga yang membayangi adalah beban utang proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh. Proyek yang digarap dan diresmikan pada era Jokowi ini membebani negara dengan utang yang mencapai Rp 116 triliun.
Hendri menyoroti fakta bahwa jumlah penumpang Whoosh hingga pertengahan 2025 masih jauh dari target, sementara biaya proyek mengalami pembengkakan signifikan. Utang ini memberikan tekanan berat, terutama pada PT KAI (Persero) sebagai lead konsorsium, yang mencatat kerugian triliunan rupiah.
Ia mendesak agar polemik Whoosh segera diselesaikan, termasuk menuntaskan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas pembengkakan biaya, dan jika ada kesalahan, proses hukum harus ditegakkan.
Menutup analisisnya, Hendri Satrio berharap ketiga 'hantu' ini dapat segera dituntaskan oleh pemerintahan Prabowo untuk mencegah gangguan yang berkepanjangan terhadap kinerja pemerintah dan stabilitas nasional.
Artikel Terkait
Fakta Tanggal Kelulusan Jokowi di UGM: Analisis 2 Pernyataan Kontroversial Rektor
Reshuffle Kabinet Prabowo: Pratikno Diganti, Sinyal Lepas dari Geng Solo dan Jokowi?
Reshuffle Kabinet Prabowo 2026: Analisis Isu Penggantian Menlu Sugiono & Menko PMK
Reshuffle Kabinet Prabowo 2025: Nama Kandidat Baru & Isu Rotasi Menteri Terkini