Terlepas dari berbagai dinamika dan polemik yang menyertai prosesnya, fakta kemenangan Prabowo-Gibran tetap tercatat. Hasan Nasbi menegaskan bahwa Jokowi tidak akan gegabah. Berbeda dengan spekulasi awal, Jokowi memilih untuk bersikap hati-hati dan hanya menegaskan dukungan pada pasangan tersebut untuk dua periode.
Belajar dari Medan Kontestasi yang Dinamis
Namun, politik kontestasi juga menyimpan kejutan. Ada contoh di mana kandidat dengan elektabilitas awal rendah justru menang, seperti kemenangan Pramono Anung atas Ridwan Kamil atau kemenangan Anies Baswedan atas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilkada DKI Jakarta. Jokowi sendiri pernah dianggap underdog saat melawan Fauzi Bowo.
Hasan Nasbi mengingatkan bahwa politik tidak selalu hitam putih seperti perang sesungguhnya. "Kadang politik kontestasi, orang ikut memang tak untuk menang. Orang ikut bertarung, sudah tahu akan kalah, tapi tetap ikut, karena itu sudah merupakan kemenangan tersendiri," jelasnya.
Strategi Menghadapi Politik Kontestasi 2029
Kemenangan dalam politik bisa memiliki banyak arti, seperti meningkatkan suara partai di tingkat legislatif meski kalah di Pilpres. Dengan syarat kontestasi yang lebih mudah pada Pemilu 2029 mendatang, strategi "perang" ala Sun Tzu yang diyakini diterapkan Jokowi mungkin tidak sepenuhnya berlaku. Medan pertarungan yang lebih luas dan kompleks menuntut strategi yang lebih adaptif dan multifaset dari setiap politisi dan partai.
Artikel Terkait
MUI Dukung Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Gaza Trump: Alasan & Komitmen Penuh
Riza Chalid: Profil, Kasus Korupsi Minyak, dan Status Buronan Interpol 2026
Jetour T2 Terbakar di Tol Jagorawi: Penyebab, Fakta Bukan EV, dan Spesifikasi
Jeffrey Epstein dan Putin: Dokumen Rahasia Ungkap Upaya Dekatkan Diri & Tawaran Informasi Trump