Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Protes Berdarah & Ancaman Balasan

- Senin, 12 Januari 2026 | 10:50 WIB
Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Protes Berdarah & Ancaman Balasan

Kekerasan seputar demonstrasi dilaporkan telah menelan korban jiwa yang signifikan. Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS, sedikitnya 538 orang tewas, termasuk 490 pengunjuk rasa. Lebih dari 10.600 orang juga dilaporkan ditangkap oleh otoritas Iran.

Kelompok pemantau HAM lain, Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, menyebut angka korban tewas pengunjuk rasa mencapai minimal 192 orang. Perbedaan angka ini muncul karena kesulitan verifikasi di lapangan, terutama akibat pemadaman internet besar-besaran yang diterapkan oleh pemerintah Iran. Pihak berwenang Iran sendiri belum merilis angka resmi korban.

Ancaman Balasan Keras dari Iran

Pernyataan Presiden Trump di platform Truth Social yang menyatakan kesiapan AS "membantu" kebebasan di Iran langsung dibalas dengan ancaman keras dari pejabat Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa kepentingan Israel dan AS di Timur Tengah akan menjadi "target yang sah" jika Washington memutuskan untuk menyerang.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan, menyebut para pelaku sebagai "teroris". Pemerintah Iran juga mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan mendesak masyarakat mengikuti "pawai perlawanan" untuk mengecam kekerasan.

Akar Protes dan Dampak ke Depan

Gerakan protes ini, yang dipicu awalnya oleh kejatuhan nilai mata uang, telah berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah. Analis menilai kerusuhan saat ini terjadi dalam kondisi pemerintah yang melemah akibat krisis ekonomi dan dampak ketegangan dengan Israel.

Kapolri Iran, Ahmad-Reza Radan, mengklaim telah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap "unsur-unsur utama kerusuhan". Jaksa Agung Iran bahkan menyatakan bahwa pengunjuk rasa bisa dituduh sebagai "musuh Tuhan", sebuah dakwaan yang berpotensi dihukum mati.

Ketegangan ini terus memantik pernyataan dari politisi AS, seperti Senator Lindsey Graham yang menyatakan "mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir", mengindikasikan bahwa situasi antara AS dan Iran berpotensi memasuki fase yang lebih kritis.

Halaman:

Komentar