Merebut Hulu Rantai Pasokan: Kobalt dan Perlombaan Teknologi Hijau
Motivasi inti AS tidak dapat dipisahkan dari posisi strategis Kongo. Negara ini memegang lebih dari 50% cadangan kobalt dunia, mineral penting untuk baterai kendaraan listrik dan elektronik, serta kekayaan tantalum, lithium, dan tembaga. Dengan mengamankan akses dan pengaruh atas produksi mineral ini melalui perjanjian, AS bertujuan membangun dominasi di hulu rantai pasokan teknologi hijau. Langkah ini merupakan bagian dari persaingan global untuk memimpin transisi energi dan industri masa depan.
Risiko bagi Kedaulatan Kongo: Perdamaian Semu dan Ketergantungan
Bagi pemerintah Kongo pimpinan Presiden Tshisekedi, kerja sama ini membawa risiko signifikan. Meski menjanjikan solusi keamanan dan suntikan investasi, kemitraan dapat mengikis kedaulatan ekonomi nasional. Ketika infrastruktur vital dan sektor pertambangan strategis terikat dengan kepentingan asing, ruang kebijakan domestik menyempit. Selain itu, pendekatan AS yang menyederhanakan konflik kronis menjadi isu "dukungan Rwanda" berpotensi hanya menciptakan "pulau keamanan" di sekitar area pertambangan, tanpa menyelesaikan akar masalah konflik yang kompleks, sehingga berisiko melanggengkan ketergantungan dan ketidakstabilan jangka panjang.
Kesimpulannya, perjanjian Desember 2025 lebih dari sekadar dokumen damai. Ia merupakan manifestasi dari perebutan pengaruh geopolitik dan sumber daya di jantung Afrika, di mana narasi perdamaian digunakan untuk membingkai agenda strategis yang akan menentukan siapa yang mengendalikan mineral-mineral kritis masa depan.
Artikel Terkait
Discombobulator: Senjata Rahasia AS Lumpuhkan Roket Rusia & China di Venezuela
USS Abraham Lincoln Siap Serang Iran dalam 1-2 Hari: AS Kerahkan Pesawat Tempur, UEA Tolak
Kemajuan ICBM dan Produksi Nuklir Korea Utara: Ancaman Global yang Makin Nyata
Rocky Gerung Diperiksa Polda Metro Jaya sebagai Saksi Kasus Ijazah Jokowi: Fakta dan Kronologi