Direktur Utama SRIL Iwan Kurniawan Lukminto mengatakan kondisi tersebut yang akhirnya membuat perseroan harus melakukan peneyesuaian kapasitas produksi dan efisiensi karyawan lantaran turunnya pesanan. Perseroan mulai mencatat penurunan kinerja sejak pandemi berlangsung.
"Kami harapkan dengan adanya kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai masuknya barang-barang impor itu juga bisa melihat dari sisi kami produsen di dalam negeri ini yang mengalami kesulitan bersaing dengan produk-produk impor yang merajalela di pasaran," kata Iwan dalam Public Expose SRIL, Selasa (25/6/2024).
Langkah efisiensi dilakukan agar perusahaan lebih mudah memantau keuntungan dan kerugian lini bisnis utama secara berkala. Dengan demikian, perseroan dapat dengan mudah menentukan produk yang lebih banyak berkontribusi dalam profit margin.
Sejak pandemi, SRIL telah melakukan pemangkasan tenaga kerja hingga 35%. Pada awal tahun 2024, produsen pakaian militer itu telah mengurangi jumlah karyawan dari 13.000-an pekerja hingga 10.000 tenaga kerja hingga saat ini.
Adapun saat ini 35 pabrik SRIL masih beroperasi dengan utilitas dikisaran 60-80%. Fasilitas manufaktur SRIL terdiri dari 25 pabrik di Sukoharjo, 9 pabrik di Semarang, dan 3 pabrik di Boyolali.
Di sisi lain, Direktur Keuangan SRIL Welly Salam mengatakan fenomena PHK memang tengah terjadi di berbagai perusahaan tekstil nasional. Menurut dia, kondisi pemulihan akan terjadi bergantung pada kebijakan pemerintah.
"Jadi kita dalam situasi yang seperti ini kita juga harus melakukan efisiensi secara tepat sehingga going constant perusahaan tidak terganggu," ujarnya.
Artikel Terkait
USS Abraham Lincoln Siap Serang Iran dalam 1-2 Hari: AS Kerahkan Pesawat Tempur, UEA Tolak
Kemajuan ICBM dan Produksi Nuklir Korea Utara: Ancaman Global yang Makin Nyata
Rocky Gerung Diperiksa Polda Metro Jaya sebagai Saksi Kasus Ijazah Jokowi: Fakta dan Kronologi
Kapolri Tantang Dicopot! DPR RI Tolak Wacana Penggabungan Polri ke Kemendagri