“Masih berputar-putar di wilayah simbolik. Tentu ini sangat perlu untuk disesalkan,” tuturnya lewat akun media X, Rabu (29/11).
Semua itu, sambung Fahri, memang menggambarkan kualitas dari demokrasi Indonesia yang sangat didominasi oleh para pimpinan partai politik. Mereka tidak kunjung membawa politik masuk ke dalam isu-isu yang penting bagi masa depan generasi mendatang.
Kesulitan untuk keluar dari pesan-pesan simbolik tentang masa lalu dan keterjebakan Indonesia dalam politik aliran dan ideologi, dapat dianggap sebagai penegasan tentang kentalnya polarisasi politik. Padahal semua pihak sudah sepakat bahwa polarisasi harus ditinggalkan.
“Tapi di sisi yang lain juga menggambarkan betapa sulitnya merumuskan satu narasi kebangsaan yang dapat meninggalkan kita dari jeratan dan jebakan politik masa lalu, yang tidak baik untuk diteruskan,” tutupnya
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Discombobulator: Senjata Rahasia AS Lumpuhkan Roket Rusia & China di Venezuela
USS Abraham Lincoln Siap Serang Iran dalam 1-2 Hari: AS Kerahkan Pesawat Tempur, UEA Tolak
Kemajuan ICBM dan Produksi Nuklir Korea Utara: Ancaman Global yang Makin Nyata
Rocky Gerung Diperiksa Polda Metro Jaya sebagai Saksi Kasus Ijazah Jokowi: Fakta dan Kronologi