Wildan menambahkan bahwa banyak contoh politikus yang pindah partai dan langsung diterima. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Budi Arie. Ia menilai bahwa Budi Arie tidak memiliki daya tarik politik yang cukup untuk diterima oleh Gerindra maupun PSI.
Saran untuk Masa Depan Projo
Selain itu, Wildan juga memberikan saran terkait organisasi relawan Projo (Pro Jokowi) yang saat ini dipimpin Budi Arie. Ia menilai nama "Pro Jokowi" sudah tidak relevan lagi karena Jokowi tidak lagi ikut dalam kontestasi politik.
"Budi Arie seharusnya berpikir maju dengan mendukung Kaesang Pangarep, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PSI. Mengganti nama Projo menjadi Prokas atau Pro Kaesang bisa menjadi langkah strategis," pungkas Wildan.
Dengan demikian, penolakan terhadap Budi Arie ini menunjukkan betapa pentingnya nilai tawar dan privilege dalam dunia politik Indonesia.
Artikel Terkait
Bripka AS Tersangka Pembunuh Mahasiswi UMM: Motif, Ancaman Hukuman Mati, dan Pemecatan
Prabowo: Menteri Serba Salah Turun ke Lokasi Bencana, Datang atau Tidak Selalu Dikritik
Luhut Binsar Pandjaitan Didesak Diperiksa Soal PT Toba Pulp Lestari, Dituding Picu Banjir Sumut
Hakim MK Anwar Usman Absen 81 Kali di 2025: MKMK Keluarkan Surat Peringatan