Analisis Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Timur Tengah Sangat Khawatir?

- Minggu, 25 Januari 2026 | 21:50 WIB
Analisis Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Timur Tengah Sangat Khawatir?

Mengapa Timur Tengah Sangat Khawatir Jika Perang AS vs Iran Benar-Benar Pecah?

Tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump untuk merespons tindakan keras Iran terhadap demonstran terus meningkat. Meski serangan militer langsung belum terjadi, opsi tersebut tetap menjadi ancaman nyata. Pejabat AS menyebut titik keputusan kritis mungkin terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

Prospek perang ini menimbulkan kecemasan mendalam di hampir seluruh ibu kota negara Timur Tengah, kecuali Israel. Bagi kawasan, serangan AS ke Iran dinilai sebagai langkah berbahaya yang akan memicu risiko geopolitik, ekonomi, dan keamanan yang sangat besar.

Stabilitas Regional Lebih Penting Daripada Perubahan Rezim di Iran

Banyak negara di Timur Tengah lebih takut pada konsekuensi destabilisasi langsung dari intervensi militer AS-Israel daripada pada rezim Iran itu sendiri. Kekhawatiran terbesar adalah serangan akan memicu kekacauan berkepanjangan, bahkan perang saudara, yang berujung pada gelombang pengungsi besar-besaran. Ini akan membebani sistem politik dan ekonomi regional yang sudah rapuh.

Kekacauan juga berpotensi membangkitkan gerakan separatis di daerah pinggiran Iran, seperti wilayah etnis Arab, Baloch, atau Kurdi. Hal ini menjadi ancaman keamanan akut bagi negara tetangga seperti Turki dan Pakistan. Bagi mayoritas negara di kawasan, keberlanjutan rezim Iran—meski tidak ideal—dianggap lebih baik daripada ketidakpastian dan keruntuhan negara.

Intervensi AS dipandang akan memicu pembalasan Iran yang menargetkan infrastruktur energi, jalur pelayaran, dan instalasi militer regional. Dampak sekunder seperti serangan siber, mobilisasi milisi, terorisme, dan volatilitas pasar di Irak, negara Teluk, Lebanon, Suriah, dan Yaman justru lebih dikhawatirkan.

“Upaya perubahan rezim lain yang gagal di kawasan ini akan menabur kekacauan mengerikan. Tidak ada yang ingin melihat lebih banyak penderitaan di wilayah yang sudah dilanda konflik selama beberapa dekade,” jelas Joshua Landis, Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma.

Banyak negara justru melihat Iran yang melemah di bawah sanksi sebagai entitas yang lebih prediktif. Pergolakan revolusioner justru berisiko menciptakan kekosongan kekuasaan atau melahirkan aktor militan yang tidak terkendali.

“Para pemimpin kawasan umumnya melihat Iran saat ini sebagai negara yang tertekan, tetapi masih diperintah oleh negara yang terpusat. Kekacauan dan fragmentasi pasca-perang justru lebih menakutkan,” kata Karim Emile Bitar, dosen Studi Timur Tengah di Sciences Po Paris.

Israel, Iran, dan Pergeseran Ancaman di Mata Negara Arab

Halaman:

Komentar