"Indonesia berhasil menggunakan diplomasi bawah tanah untuk menjembatani kepentingan dengan Amerika Serikat, termasuk dalam upaya pengurangan tarif perdagangan. Ini menunjukkan kemampuan negosiasi Indonesia yang cerdas dan berdaulat," jelasnya.
Penguatan diplomasi maritim juga menjadi sorotan sebagai bagian dari strategi besar geopolitik Indonesia. Kepemimpinan Presiden Prabowo dinilai telah menghidupkan kembali visi poros maritim dunia dengan langkah konkret di tingkat diplomasi dan pertahanan laut.
"Dari segi maritim, Presiden sudah mampu membentuk arus aksi nyata dalam diplomasi kelautan. Indonesia kini cukup kuat untuk menjadi tolok ukur geopolitik dan geostrategis di kawasan Indo-Pasifik," tegasnya.
Keberlanjutan arah diplomasi ini dinilai penting untuk memperkuat national branding Indonesia di mata dunia. Konsistensi kebijakan luar negeri yang berdaulat akan menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang dihormati di tataran global.
"Hal seperti inilah yang harus kita pertahankan agar national branding Indonesia semakin kokoh di panggung global, bahwa kita adalah bangsa yang berdaulat, berpengaruh, dan dihormati," pungkas Fathur Rahman.
Artikel Terkait
Kisah Sudrajat: Rumah Ambrol di Bogor, Anak Putus Sekolah & Bantuan yang Mengalir
Kisah Pilu Sudrajat di Bogor: Rumah Lapuk Jebol & 3 Anak Putus Sekolah
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Cederai HAM dan Hukum Internasional
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Ancam Kepemimpinan di Dewan HAM PBB?