Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh strategi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi biaya dan mengoptimalkan portofolio pasar domestik. Hal ini memungkinkan PTBA untuk tetap tumbuh positif meski harga komoditas mengalami penurunan.
Realiasi Belanja Modal (Capex)
Hingga kuartal III 2025, realisasi belanja modal PTBA telah mencapai 41% dari target tahunan, atau setara dengan Rp3,0 triliun. Capex ini dialokasikan untuk mendukung keberlanjutan operasi dan proyek-proyek logistik strategis perusahaan.
Komposisi Penjualan Domestik dan Ekspor
Hingga September 2025, penjualan domestik mendominasi dengan porsi 56%, sementara ekspor menyumbang 44%. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.
Beban Pokok Pendapatan dan Faktor Pendukungnya
Beban pokok pendapatan PTBA naik 11% (YoY) menjadi Rp27,8 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan volume operasional. Faktor lain yang mempengaruhi adalah pencabutan subsidi FAME pada biodiesel dan kebijakan B40, yang menyebabkan kenaikan harga BBM sebesar 8% (YoY) dan berdampak pada biaya bahan bakar untuk kegiatan penambangan dan angkutan kereta api.
Di sisi lain, beban penjualan berhasil ditekan dengan penurunan sebesar 1% atau Rp7,1 miliar.
Artikel Terkait
Bursa Asia Anjlok: Penyebab, Dampak, dan Prospek ke Depan
IHSG Rawan Koreksi 5 November 2025: Analisis Teknis & Rekomendasi Saham PTBA, MYOR, HEAL
IHSG Melemah 0,51% ke 8.200, RISE dan IPAC Jadi Top Losers Terbesar
CBRE (Cakra Buana Resources Energi) Raih Pinjaman Rp803 Miliar dari BRI untuk Kapal Hai Long 106: Strategi dan Dampaknya