Sentimen pasar semakin tertekan oleh tanda-tanda pelemahan ekspor CPO pada bulan Oktober. Ekspektasi permintaan yang menurun menjelang musim dingin juga menjadi beban, karena konsumsi minyak nabati di negara-negara importir utama biasanya melambat pada periode tersebut.
3. Perlambatan Ekonomi China
Data Purchasing Managers' Index (PMI) resmi China yang dirilis pada Oktober menunjukkan kehilangan momentum ekonomi. Sebagai pasar raksasa, perlambatan di China langsung berdampak pada prospek permintaan komoditas global, termasuk CPO.
4. Gencatan Dagang AS-China yang Minim Dampak
Meskipun futures kedelai AS sempat mencapai level tertinggi dalam 15 bulan setelah adanya pengumuman kesepakatan dagang dengan China, gencatan sementara ini gagal memulihkan kepercayaan pasar. Pelaku pasar menganggapnya hanya sebagai jeda taktis dan bukan sebuah terobosan fundamental yang nyata.
Harga Acuan CPO Indonesia untuk November
Di tengah pelemahan harga global, pemerintah Indonesia justru menetapkan harga acuan CPO untuk bulan November 2025 sebesar USD 963,75 per ton. Angka ini mengalami kenaikan tipis dibandingkan harga acuan Oktober yang sebesar USD 63,61 per ton. Keputusan ini akan menjadi perhatian bagi eksportir dan pelaku industri dalam negeri.
Prospek dan Outlook Harga CPO Ke Depan
Dengan kombinasi faktor melemahnya ekspor, permintaan musiman yang lesu, serta ketidakpastian perdagangan global, prospek harga CPO dalam jangka pendek masih cenderung berada di bawah tekanan. Investor dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan data ekspor, kebijakan pemerintah Indonesia, dan dinamika hubungan dagang AS-China untuk mengantisipasi pergerakan harga selanjutnya.
Artikel Terkait
Bursa Asia Anjlok: Penyebab, Dampak, dan Prospek ke Depan
IHSG Rawan Koreksi 5 November 2025: Analisis Teknis & Rekomendasi Saham PTBA, MYOR, HEAL
IHSG Melemah 0,51% ke 8.200, RISE dan IPAC Jadi Top Losers Terbesar
CBRE (Cakra Buana Resources Energi) Raih Pinjaman Rp803 Miliar dari BRI untuk Kapal Hai Long 106: Strategi dan Dampaknya