Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menyoroti sikap ganda Arab Saudi ini sebagai "strategi hedging" atau upaya mengambil posisi aman di antara dua pihak yang berkonflik.
"Di ruang publik, Riyadh menyerukan solidaritas Muslim dan menolak wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran, karena perang terbuka akan mengancam stabilitas Teluk dan ekonomi Saudi," kata Dina.
"Namun di sisi lain, Saudi tetap memandang Iran sebagai rival struktural jangka panjang yang harus ditekan. Kekhawatiran bahwa Iran yang kuat akan menggerus posisi Saudi masih membayangi elite di Riyadh," tambahnya.
Kekuatan Iran dan Dilema Serangan Militer
Pakar lain dari Unpad, Teuku Rezasyah, memaparkan alasan mengapa Iran merupakan target yang sulit dihancurkan, bahkan oleh AS:
- Semangat Nasional yang Kuat: Sebagai pusat peradaban awal, Iran memiliki kesadaran historis dan marwah bangsa yang dijaga bersama oleh pemerintah dan masyarakat.
- Kepemimpinan yang Dipercaya: Pemerintah Iran dianggap menunjukkan keteladanan ideologis dan berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat secara mandiri.
- Kekuatan Militer Mandiri: Iran mengembangkan teknologi pertahanan sendiri, termasuk rudal dengan berbagai jangkauan yang mampu mengancam aset AS di kawasan.
- Kemampuan Blokade Strategis: Iran berpotensi memblokade Selat Hormuz jika diserang, yang akan mengguncang pasokan energi global.
- Kewaspadaan Negara Teluk: Negara-negara tetangga waspada terhadap pembalasan Iran yang bisa mengguncang kawasan dengan serangan rudal besar-besaran.
- Kurangnya Dukungan NATO: NATO dianggap enggan mendukung serangan langsung terhadap Iran, belajar dari pengalaman konflik sebelumnya.
Kesimpulan: Saudi Bermain Aman di Tengah Ketegangan
Langkah Arab Saudi mencerminkan kalkulasi geopolitik yang rumit. Di depan umum, Riyadh menjaga citra sebagai pemersatu Muslim dan penjaga stabilitas kawasan. Namun, di balik pintu tertutup, mereka mendorong sekutu kuatnya, AS, untuk mengambil tindakan keras terhadap rival regional mereka.
Strategi hedging ini menunjukkan keinginan Saudi untuk mengamankan kepentingannya dari segala skenario: baik jika konflik pecah maupun jika diplomasi berhasil, sambil terus berusaha menekan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Iran Ancam Balas Serangan AS ke Israel: Analisis Risiko Perang Timur Tengah
PPATK Bongkar Ekspor Emas Ilegal Rp155 Triliun, Devisa Negara Bocor ke Luar Negeri
Klaim Dokumen Epstein: Bill Gates Tertular STD dari Gadis Rusia? Fakta & Bantahannya
Habib Bahar bin Smith Jadi Tersangka Penganiayaan Banser: Diperiksa 4 Februari 2026