Pendapatan MSCI berasal dari penjualan riset yang dikonsumsi oleh investor institusional dan hedge fund tersebut. Oleh karena itu, laporan dari MSCI berpotensi menjadi alat legitimasi untuk tekanan pasar yang dilakukan oleh aktor-aktor keuangan besar tersebut.
Kekhawatiran MSCI yang Memicu Aksi Jual Massal
MSCI secara terbuka telah menyuarakan kekhawatiran terhadap tingkat investability pasar saham Indonesia, terutama terkait free float, likuiditas, konsentrasi kepemilikan, dan konsistensi regulasi. Kekhawatiran ini dinilai dapat mengganggu akses dan kenyamanan investor global, khususnya investor institusional berskala besar.
Menurut Yanuar, pernyataan MSCI itu kemudian diterjemahkan oleh pasar sebagai sinyal negatif yang kuat. Hal ini memicu aksi jual massal, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar, yang akhirnya menyebabkan IHSG terjun bebas dan memaksa BEI mengaktifkan mekanisme trading halt.
Peringatan untuk Pemerintah dan Konteks Geoekonomi Global
Yanuar juga menarik konteks geoekonomi global, menyebut kondisi saat ini mirip dengan era 1980-an di mana perang ekonomi dan perebutan sumber daya menjadi instrumen tekanan antarnegara. Situasi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah, termasuk bagi Presiden Prabowo Subianto, untuk tidak meremehkan permainan hedge fund global di pasar keuangan nasional.
"Dengan masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, dan sikap tegas Indonesia soal Israel, kesan saya Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan 'kita dibantu, jangan dihantam'," pungkas Yanuar.
Artikel Terkait
Mundur Massal Pimpinan OJK & BEI: Dampak Free Float dan Tantangan untuk Prabowo
Update Longsor Bandung Barat: 60 Korban Ditemukan, 20 Masih Hilang - Operasi SAR Terus Berlanjut
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial & Alarm Demokrasi
Jokowi Bicara Sous Korupsi Haji: Setiap Kasus Pasti Mengaitkan Saya