OLEH: ADIAN RADIATUS
MESKI belum bisa disebut antiklimaks, tetapi munculnya nama putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres Prabowo Subianto telah membuat gempar setengah publik pemerhati dunia perpolitikan negeri ini. Setengahnya lagi seperti masuk dalam medan gamang di pikiran dan hati.
Jungkir balik tak hanya terkait pola nalar akal sehat terkait risiko atas kepemimpinan kenegaraan dan kebangsaan ke depannya. Tetapi juga munculnya perseteruan tingkat tinggi. Bahkan akan amat sangat tinggi, di antara PDIP dan partai-partai pendukung Prabowo-Gibran.
Namun masalah sentral sesungguhnya adalah penunjukan dan pengangkatan Gibran sebagai cawapres di tengah banyaknya kandidat potensial dan lebih senioritas secara usia maupun pengalaman. Sangat menarik ketika sesuatu yang di luar kelaziman, bahkan di dunia politik, sekalipun tiba-tiba muncul ke permukaan level tertinggi kepemimpinan nasional meskipun masih merupakan kandidat.
Apa ada yang salah dengan Gibran sendiri. Atau apakah ini termasuk "dirty conspiracy" para petinggi elite yang sebenarnya sudah muak juga dengan situasi saling 'sandera' tak berujung yang titik akhirnya oleh kekuasaan di belakang Jokowi, karena acapkali disebut sebagai petugas partainya?
Artikel Terkait
Mundur Massal Pimpinan OJK & BEI: Dampak Free Float dan Tantangan untuk Prabowo
Trading Halt IHSG 2026: Analisis Lengkap Peran MSCI dan Hedge Fund Global
Update Longsor Bandung Barat: 60 Korban Ditemukan, 20 Masih Hilang - Operasi SAR Terus Berlanjut
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial & Alarm Demokrasi