Rocky Gerung kemudian memperlihatkan ironi yang dalam dari kedua peristiwa tersebut. "Harga buku itu berapa? (misal) Rp10 ribu. Rp10 ribu (itu) berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan oleh Prabowo pada Donald Trump?" sambungnya menegaskan.
Menurut Rocky, tindakan anak tersebut merupakan pesan mendalam tentang kondisi kehidupan berbangsa yang dinilainya minim etos Republikanisme. "Dia memilih untuk dia mau pergi... supaya publik mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan urusan republik," pungkasnya.
Kasus yang menjadi pembanding tersebut menimpa siswa kelas IV SD berinisial YS. Ia ditemukan gantung diri di pohon cengkeh di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, pada Kamis, 29 Januari 2026, setelah tidak dibelikan buku oleh ibunya. YS diketahui meninggalkan surat berisi pesan menyentuh hati untuk sang ibu.
Perbandingan yang diangkat Rocky Gerung ini menyulut diskusi publik mengenai skala prioritas dan ironi kebijakan luar negeri di tengah persoalan mendasar kesejahteraan rakyat di dalam negeri.
Artikel Terkait
Jokowi Tampil Energik di PSI: Benarkah Alasan Kesehatan untuk Absen Panggilan Hukum?
Prabowo Diminta Tuntut Erick Thohir Secara Hukum: Dugaan Penyimpangan BUMN Diungkap
Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Analisis Motif Politik untuk Gibran dan Kaesang
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas dan Kronologi Lengkap