Namun, Adi juga memperingatkan bahwa gaya tersebut bisa menjadi pisau bermata dua. Jika suatu saat Purbaya tiba-tiba tidak lagi menampilkan gaya koboi-nya, tidak lagi blak-blakan, atau kehilangan sifat "gaspol"-nya, maka respons publik berpotensi berbalik menjadi negatif. "Siap-siap saja menteri ini akan dibully dan dikritik," jelas Adi.
Peringatan: Popularitas Harus Diikuti Kebijakan Nyata
Lebih lanjut, Adi Prayitno mengingatkan bahwa popularitas tinggi tidak akan bertahan lama jika tidak diikuti dengan kinerja dan kebijakan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya di bidang ekonomi yang menjadi tanggung jawabnya.
"Kalau gaya politik Purbaya hanya sebatas gimik atau retorika politik tanpa melahirkan kebijakan yang esensial di bidang ekonomi, maka siap-siaplah, orang seperti Purbaya yang kini paling populer bisa kehilangan dukungan publik," tutup Adi menegaskan.
Analisis ini menyoroti betapa dinamisnya dunia politik dan bagaimana citra publik seorang tokoh dapat berubah dengan cepat, menekankan pentingnya keseimbangan antara gaya komunikasi dan substansi kebijakan.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Kritik Jokowi di Rakernas PSI: Strategi Playing Victim?
Prabowo Subianto Temui Siti Zuhro & Susno Duadji: Pertemuan Oposisi atau Dialog Biasa?
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri: Analisis Hukum dan Dampaknya bagi Institusi Polri
Jokowi dan PSI: Komitmen Politik Pasca Jabatan, Janji Turun ke Daerah hingga Kontroversi