Paus Fransiskus menyoroti bahwa dengan semakin mengadopsi sikap predator terhadap makanan dan sumber daya dalam arti yang lebih luas, manusia telah "mengabaikan nama manusia" dan malah menjadi "konsumen."
Ia mencatat bahwa semakin banyak orang yang tampaknya memiliki hubungan yang tidak seimbang dengan makanan, yang berujung pada gangguan makan yang "sebagian besar berkaitan dengan siksaan jiwa dan raga."
Dalam Anjuran Apostoliknya pada bulan Oktober, Paus Fransiskus menulis bahwa konsekuensi perubahan iklim dalam bentuk "fenomena cuaca ekstrem" semakin sulit untuk diabaikan.
Ia juga menolak anggapan bahwa negara-negara miskin memikul tanggung jawab terbesar atas pemanasan global, dengan menyatakan bahwa "emisi per individu di Amerika Serikat dua kali lebih besar dibandingkan emisi individu yang tinggal di Tiongkok, dan sekitar tujuh kali lebih besar daripada rata-rata negara-negara termiskin."
Pernyataan Paus Fransiskus ini mengingatkan kita akan pentingnya mengubah sikap kita terhadap makanan dan sumber daya alam, serta perlunya tindakan kolektif untuk melindungi planet ini dari kerusakan yang lebih lanjut.
Paus juga menyesalkan kurangnya minat negara-negara ekonomi besar untuk mengatasi situasi ini.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: klikanggaran.com
Artikel Terkait
Bentrokan TKA China vs Pekerja Lokal di Proyek IPIP Kolaka: 4 WNA Diamankan Polisi
Bentrokan di Tambang Nikel IPIP Kolaka: Kronologi TKA China Aniaya Pekerja Lokal & Respons Polisi
Longsor Cisarua Bandung: 23 Marinir Tertimbun, 4 Meninggal Dunia | Update Evakuasi
Suami Korban Jambret Sleman Jadi Tersangka, Ini Kronologi Lengkap Hingga 2 Pelaku Tewas