Menurut laporan yang dikutip Republika.co.id, China disebut berperan penting dalam memperkuat kemampuan rudal Iran, sementara Rusia secara rutin mengirimkan berbagai jenis proyektil hampir setiap pekan. Pengiriman ini memperkuat kemitraan strategis kedua negara dengan Teheran pasca-eskalasi.
Latar Belakang: Perang 12 Hari dan Manuver Militer Bersama
Pada 13 Juni 2025, Israel dengan dukungan AS melancarkan serangan selama 12 hari ke target militer, nuklir, dan sipil Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang markas militer dan intelijen Israel.
Di tengah ketegangan ini, Iran, Rusia, dan China bersiap menggelar manuver laut bersama bertajuk "Sabuk Keamanan". Waktu pelaksanaan manuver ini dianggap memiliki pesan politik dan militer yang kuat terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Kesimpulan: Pesan Peringatan atau Persiapan Nyata?
Persiapan kuburan massal untuk tentara AS, ditambah dengan penguatan persenjataan dan manuver militer bersama, merupakan rangkaian sinyal keras dari Iran. Langkah-langkah ini dapat ditafsirkan sebagai pesan peringatan sekaligus persiapan nyata menghadapi kemungkinan terburuk konflik terbuka dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Dokumen Jeffrey Epstein Dibuka: Nama Elon Musk, Pangeran Andrew, hingga Sergey Brin Terungkap
Santunan Rp15 Juta dari Mensos untuk Ahli Waris Korban Tewas Banjir Sumatra
Puslabfor Polri Ungkap Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah: Hasil Analisis Forensik Lengkap
Mundur Massal Pimpinan OJK & BEI: Dampak Free Float dan Tantangan untuk Prabowo