3. Diksi Ekstrem di Ruang Publik
Pernyataan Kapolri tentang mempertahankan posisi “sampai titik darah penghabisan” dianggap Gatot sebagai bahasa konflik yang berpotensi intimidatif.
Pesan Implisit dan Ancaman terhadap Presiden
Gatot Nurmantyo menduga ada pesan terselubung dari Kapolri kepada Presiden. “Pesan implisitnya jelas: Jangan sentuh struktur Polri. Pernyataan ini menciptakan tekanan atau ‘bullying’ kepada Presiden sebagai pemegang mandat konstitusional tertinggi,” tegas Gatot.
Ia menambahkan, sebagai sesama lulusan Akademi Militer, tindakan Jenderal Listyo Sigit dinilainya tidak beretika dan dapat merusak marwah institusi Polri di mata masyarakat.
Peringatan “Alarm Darurat Demokrasi”
Lebih jauh, Gatot memberikan peringatan serius bahwa situasi ini adalah “Alarm Darurat Demokrasi”. Ia menilai Kapolri sedang menguji batas kewenangan Presiden dan melakukan pengkhianatan terhadap konstitusi, yang diduga didukung oleh oknum anggota DPR.
Kritik dari purnawirawan tinggi TNI ini menyoroti dinamika hubungan sipil-militer dan kepolisian di Indonesia, serta menjadi bahan perdebatan publik mengenai batas kewenangan dan loyalitas institusi negara.
Artikel Terkait
Update Longsor Bandung Barat: 60 Korban Ditemukan, 20 Masih Hilang - Operasi SAR Terus Berlanjut
Jokowi Bicara Sous Korupsi Haji: Setiap Kasus Pasti Mengaitkan Saya
Sally Siswi SMK Letris Pamulang Hilang 2026: Kronologi Lengkap & Perkembangan Terbaru Pencarian
Teman Kuliah Jokowi di UGM Bantah Ijazah Palsu: Roy Suryo Mengada-ada, Ini Faktanya