Anak Muda sebagai Subjek Politik yang Setara
Di sisi lain, pegiat isu politik Aurelia Vizal menyoroti pentingnya memandang anak muda sebagai subjek politik yang setara, bukan sekadar jargon politik. Aurelia mengkritik sistem politik yang hanya melibatkan anak muda secara simbolis setiap lima tahun sekali.
"Habis dijadiin kayak simbol politik, hiasan doang setiap lima tahun sekali, setelah itu apa? Kita tidak pernah dianggap subjek politik yang setara," ungkap Aurelia dalam program yang sama.
Dorongan untuk Terus Bersuara dan Berkolektif
Aurelia mendorong anak muda untuk tetap bersuara meskipun sering diabaikan. Dia menekankan bahwa partisipasi politik anak muda harus memiliki substansi, bukan sekadar hiasan estetika.
"Jadi menurutku, anak muda tetaplah bersuara, tetaplah berkolektif, tetap bersolidaritas. Meski pun api kita kecil, percikan itu tetap api dan lama-lama bisa menyambar juga," pesannya memberikan semangat.
Dengan demikian, peran anak muda dalam membangun masa depan Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Generasi muda dituntut untuk aktif bersuara dan berpartisipasi secara substantif dalam berbagai aspek pembangunan bangsa.
Artikel Terkait
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial & Alarm Demokrasi
Jokowi Bicara Sous Korupsi Haji: Setiap Kasus Pasti Mengaitkan Saya
Sally Siswi SMK Letris Pamulang Hilang 2026: Kronologi Lengkap & Perkembangan Terbaru Pencarian
Teman Kuliah Jokowi di UGM Bantah Ijazah Palsu: Roy Suryo Mengada-ada, Ini Faktanya