Ahmad Sahroni, Uya Kuya, dan Eko Patrio Jadi Buronan Pendemo karena Sakit Hati

- Sabtu, 30 Agustus 2025 | 08:35 WIB
Ahmad Sahroni, Uya Kuya, dan Eko Patrio Jadi Buronan Pendemo karena Sakit Hati


GELORA.ME
-  Ratusan massa aksi kembali menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR pada Jumat (29/8/2025).

Massa demo tersebut menyoroti insiden anggota DPR yang joget dalam Sidang Tahunan MPR 2025.

Kemarahan mereka muncul karena perilaku joget dinilai tidak mencerminkan sikap pejabat negara.

Dalam orasinya, massa demo menyebut nama beberapa anggota DPR melalui pengeras suara.

Nama Ahmad Sahroni, Uya Kuya, hingga Eko Patrio diteriakkan secara bergantian oleh massa demo. Mereka jadi buronan pendemo.

"Woi pejabat-pejabat yang joget. Mana lu Uya Kuya, Eko Patrio, Sahroni?" seru para demonstran, Jumat (29/8/2025).

Massa demo menganggap aksi joget saat sidang kenegaraan merendahkan wibawa lembaga DPR.

Selain menyoroti aksi joget, massa demo juga menyinggung janji keterbukaan DPR untuk rakyat.

Mereka mengingatkan kembali soal janji bahwa pintu DPR akan dibuka lebar untuk masyarakat.

Namun, massa demo menilai janji itu tidak pernah benar-benar diwujudkan oleh pimpinan DPR.

"Puan, dibuka yok lebar-lebar pintu DPR. Mana janjinya Puan yang bilang pintu dibuka lebar-lebar? Janji palsu," ucap mereka.

Seruan itu ditujukan langsung kepada Ketua DPR Puan Maharani yang dianggap ingkar janji.

Massa demo menyebut janji keterbukaan DPR hanyalah retorika tanpa realisasi nyata.

Kemarahan massa demo semakin memuncak karena rakyat merasa tidak mendapatkan akses ke DPR.

Aksi demo ini juga mencerminkan kekecewaan publik terhadap budaya politik di Indonesia.

Mereka menilai DPR seharusnya lebih fokus pada kerja legislasi ketimbang urusan hiburan.

Massa demo menegaskan bahwa Sidang Tahunan MPR adalah agenda sakral bagi rakyat.

Namun, perilaku joget anggota DPR dianggap mencederai kesakralan sidang tersebut.

Massa demo menganggap tindakan itu menunjukkan lemahnya sensitivitas pejabat terhadap rakyat.

Isu janji palsu kembali menjadi sorotan dalam aksi demo di depan DPR.

Keterbukaan lembaga DPR yang sering disuarakan ternyata dianggap hanya sebatas slogan.

Massa demo menuntut adanya bukti konkret keterbukaan DPR terhadap masyarakat luas.

Aksi ini semakin ramai dengan orasi keras yang bergema di sekitar Gedung DPR.

Massa demo juga membawa spanduk bertuliskan kritik terhadap perilaku anggota DPR.

Kekecewaan masyarakat ini memperlihatkan adanya jurang antara wakil rakyat dan rakyat.

Banyak orang menilai DPR gagal menjaga marwah lembaga negara di hadapan publik.

Perilaku berjoget saat sidang dinilai memperburuk citra wakil rakyat di mata masyarakat.

Aksi massa demo menegaskan bahwa publik masih menagih akuntabilitas DPR.

Kemarahan ini muncul sebagai perlawanan moral terhadap perilaku pejabat negara.

Demonstrasi kali ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap elit politik.

Massa demo juga menilai bahwa kinerja DPR belum sesuai harapan rakyat.

Janji-janji politik yang tidak ditepati menjadi bahan kritik utama dalam orasi mereka.

Situasi di depan Gedung DPR terus memanas dengan teriakan massa demo.

Meski demikian, aparat keamanan tetap berjaga untuk mengantisipasi ketegangan.

Aksi demo ini menunjukkan bahwa rakyat masih konsisten mengawasi kinerja DPR.

Perilaku anggota DPR yang berjoget menjadi pemicu, namun isu utamanya soal janji palsu.

Massa demo menuntut perubahan nyata agar DPR kembali mendapat kepercayaan publik.

Demo di depan Gedung DPR hari ini memperlihatkan ketidakpuasan rakyat terhadap elit politik.

Kemarahan massa demo menjadi peringatan keras bagi DPR untuk tidak mengabaikan suara rakyat.

Dengan tuntutan yang jelas, aksi ini menjadi catatan penting dalam perjalanan demokrasi.***

Sumber: pojokbaca

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini