"Jadi secara kualitas popularitas dan tingkat kesukaan, kedua-duanya (Prabowo-Gibran) ini adalah sama-sama kandidat yang premium karena cukup powerful rata-rata di atas 90 dan 80 persen," tambah Adjie.
Alasan ketiga adalah bahwa mereka yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi cenderung mendukung Prabowo-Gibran, yang merupakan pasangan pengganti yang mendapatkan dukungan dari tingkat kepuasan yang tinggi terhadap Jokowi.
Baca Juga: Sederhana Tapi Nikmat ! Resep Telur Ceplok Balado yang Enak, Cocok Untuk Lauk Makan Siang
Alasan keempat adalah bahwa semakin banyak orang yang puas dengan kinerja Jokowi beralih mendukung Prabowo-Gibran, yang mengalami peningkatan dari bulan Desember 2023 hingga awal Januari 2024.
"Tadi kita lihat kepuasan terhadap Jokowi ini memang selalu naik, selalu tinggi dari survei kita di awal September 2023 selalu di atas 75 persen bahkan dalam dua kali survei terakhir di angka 81 dan 80 persen. Jadi kepuasan terhadap Jokowi yang begitu tinggi inilah yang kemudian membuat paslon pengganti mendapatkan berkah elektoral. Inilah yang terjadi pada pasangan Prabowo-Gibran," kata Adjie.
Alasan kelima adalah bahwa sebagian besar masyarakat menginginkan agar pemilihan presiden berlangsung dalam satu putaran saja, yang mencapai 80 persen dari total responden.
Baca Juga: Menuntut Keadilan, Ayah Menangis Histeris Anaknya yang Berusia 7 Tahun Jadi Korban Pelecehan
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: tinewss.com
Artikel Terkait
Mundur Massal Pimpinan OJK & BEI: Dampak Free Float dan Tantangan untuk Prabowo
Trading Halt IHSG 2026: Analisis Lengkap Peran MSCI dan Hedge Fund Global
Update Longsor Bandung Barat: 60 Korban Ditemukan, 20 Masih Hilang - Operasi SAR Terus Berlanjut
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial & Alarm Demokrasi