Dia mengaku sudah melakukan penelitian di Vatikan. Dalam penelitian itu dia mencari tahu bagaimana peradaban Vatikan bisa sangat besar.
“Ternyata sumbangan ke Vatikan itu tidak melalui kotak amal keliling. Saya melihat dalam penelitian, membaca sejarah Vatikan dengan gerejanya itu. Semuanya setiap bulan itu rekening masuk dari para jemaahnya,” ujar dia.
Panji berpendapat masjid di Indonesia tidak bisa disebut sebagai pusat peradaban karena masih kesulitan untuk mendapatkan uang dari jemaahnya sendiri.
“Hanya duduk, dipaksa mengisi kaleng [kotak amal], keluar, selesai. Ini masjid peranannya, katanya, sebagai pusat peradaban. Tidak ada. Yang ada peradaban pungutan uang,” tuturnya.
Dia menilai itu sebagai hal yang memalukan karena para jemaah baru akan memberi uang ketika kotak amal diedarkan.
“Kalau itu disebut sebagai peradaban, memalukan. Orang yang masuk masjid ini pelit. Diedarkan kotak baru ngasih,” ungkapnya.
Panji menjelaskan kalau sebuah masjid ingin disebut sebagai pusat peradaban, maka masjid harus memiliki donatur tetap atau jemaah yang secara konsisten memberi sumbangan tanpa diminta.
Sumber: tvone
Artikel Terkait
Update Longsor Bandung Barat: 60 Korban Ditemukan, 20 Masih Hilang - Operasi SAR Terus Berlanjut
Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial & Alarm Demokrasi
Jokowi Bicara Sous Korupsi Haji: Setiap Kasus Pasti Mengaitkan Saya
Sally Siswi SMK Letris Pamulang Hilang 2026: Kronologi Lengkap & Perkembangan Terbaru Pencarian