Larangan Keras Terhadap "Budaya Wisata Bencana"
Prabowo secara khusus memperingatkan bahaya munculnya "budaya wisata bencana". Menurutnya, rakyat yang sedang menderita tidak boleh dijadikan objek tontonan atau alat untuk kepentingan pencitraan politik semata.
"Kita tidak mau ada budaya wisata bencana. Jangan. Kalau datang, harus jelas tujuannya untuk membantu mengatasi masalah," imbuhnya.
Ultimatum untuk Tindakan Konkret di Lapangan
Presiden juga memberikan ultimatum kepada para menteri dan pejabat terkait untuk menyesuaikan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mereka dalam penanganan bencana. Kehadiran di lapangan harus diiringi dengan aksi nyata yang langsung meringankan beban korban.
"Kurang air bersih, apa tindakannya? Kurang BBM karena terisolasi, bagaimana solusinya? Rakyat jangan cuma ditengok, tapi ditolong," tegas Presiden Prabowo menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Bantah Harga Chromebook Rp 10 Juta, Ini Harga Riil di Sidang Tipikor
PBNU Tetapkan Kembali KH Yahya Cholil Staquf Sebagai Ketua Umum: Jadwal Muktamar NU 2026
Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Lagi: Perkembangan Terbaru Kasus Korupsi Kuota Haji 2023-2024
Kontroversi Video Rektor UGM: Perbedaan Tahun Kelulusan Jokowi Dikritik Netizen