“Soalnya jadi tetap kita masih anggap bahwa presiden memang belum puas berkuasa, jadi dia ingin tambah kekuasaan itu dengan ikut campur yang dia sebut tidak netral alias cawe-cawe,” ungkapnya.
Ia juga menyebut, sebagai kepala negara Presiden selalu punya kemampuan untuk membujuk dan menghukum.
Kalau Presiden membujuk itu artinya dia tahu dia kurang kuat maka dia membujuk, kalau dia menghukum dia tahu bahwa dia ditakuti karena itu dia akan dikendalikan keadaan.
“Jadi dalam dua hal, membujuk dan menghukum presiden punya semua peralatan,” katanya.
“Nah buruknya di dalam soal Pemilu mestinya peralatan itu tidak dia pakai itu dengan mengatakan ‘saya tidak akan cawe-cawe’. Saya pasti netral karena ini kompetisi fair. Tapi itu kan hilang dari pikiran dia itu atau memang enggak pernah dia pikirkan,” jelasnya.
Sumber: wartaekonomi
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Bantah Harga Chromebook Rp 10 Juta, Ini Harga Riil di Sidang Tipikor
PBNU Tetapkan Kembali KH Yahya Cholil Staquf Sebagai Ketua Umum: Jadwal Muktamar NU 2026
Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Lagi: Perkembangan Terbaru Kasus Korupsi Kuota Haji 2023-2024
Kontroversi Video Rektor UGM: Perbedaan Tahun Kelulusan Jokowi Dikritik Netizen