2029, Gibran Jadi Cawapres atau Capres?

- Senin, 17 Februari 2025 | 18:50 WIB
2029, Gibran Jadi Cawapres atau Capres?


Pada tahun 2029, Indonesia akan kembali menghadapi momen penting dalam pesta demokrasi, yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Salah satu nama yang kerap menjadi perbincangan adalah Gibran Rakabuming Raka, putra sulung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat menjadi Wapres mendampingi Presiden Prabowo Subianto, Gibran mulai menunjukkan potensi sebagai pemimpin yang dapat dipertimbangkan untuk posisi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres).

Gibran telah menunjukkan komitmennya terhadap dunia politik dan perinatal meski relatif belum lama terjun ke dalamnya. Gaya blusukan dilakukan Gibran untuk menarik simpati rakyat.

Ketika membahas kemungkinan Gibran untuk maju sebagai capres, kita tidak bisa mengabaikan faktor ketokohan dan popularitas. Dalam konteks politik Indonesia, ketokohan menjadi salah satu unsur krusial dalam menarik simpati pemilih. Gibran, sebagai putra mantan presiden, memiliki keuntungan tersendiri dalam hal ini. Meski ada anggapan bahwa ia mungkin mendapatkan ‘jalan mulus’ karena latar belakang keluarganya, Gibran harus mampu menunjukkan kapasitas dan integritasnya sebagai pemimpin yang mandiri.

Namun, menjadi capres bukanlah perkara yang mudah. Dalam politik, ada banyak faktor yang memengaruhi, seperti dinamika partai politik, koalisi, serta dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Kita juga perlu mencermati bagaimana Gibran membangun hubungan dengan partai politik yang ada. Jika ia ingin maju sebagai capres, Gibran harus dapat merangkul berbagai kepentingan dan membangun koalisi yang solid. Dalam hal ini, langkah-langkah strategis dan komunikasi politik yang efektif akan sangat menentukan.

Di sisi lain, peluang Gibran untuk menjadi cawapres juga sangat menjanjikan. Jika melihat situasi politik saat ini, posisi cawapres dapat memberikan ruang bagi Gibran untuk belajar dan memahami lebih dalam tentang seluk-beluk pemerintahan di tingkat nasional. Menjadi cawapres di bawah seorang capres yang sudah memiliki pengalaman dan visibilitas tinggi dapat menjadi langkah yang bijaksana bagi Gibran. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat basis dukungan dan membangun jaringan yang lebih luas di kancah politik.

Kedua posisi ini memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Jika Gibran memilih untuk mencalonkan diri sebagai capres, ia harus siap menghadapi serangkaian tantangan, termasuk kritikan dari lawan politik dan beban ekspektasi dari masyarakat. Di sisi lain, sebagai cawapres, ia harus mampu menunjukkan nilai tambah dan kontribusi yang signifikan dalam mendukung capres yang diusungnya, sehingga tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga sebagai kekuatan tambahan untuk memenangkan pemilihan.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah pentingnya visi dan misi dalam mencalonkan diri sebagai pemimpin. Gibran perlu memiliki visi yang jelas dan relevan bagi Indonesia di masa depan. Isu-isu seperti perubahan iklim, pemulihan ekonomi pasca-pandemi, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan harus menjadi fokus utama dalam program yang ditawarkannya. Visi yang kuat dan mampu menjawab tantangan zaman akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilih.

Selain itu, Gibran juga perlu membangun citra sebagai pemimpin yang inklusif dan responsif. Dalam dunia yang semakin kompleks ini, seorang pemimpin harus mampu mendengar suara masyarakat dan merespons kebutuhan mereka. Membangun komunikasi yang baik dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok marginal, adalah langkah penting untuk menciptakan kepercayaan publik. Gibran harus menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang tidak hanya memperhatikan kepentingan segelintir orang, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Selanjutnya, dalam konteks pemilihan 2029, Gibran juga perlu memperhatikan tren dan dinamika politik yang ada. Keberadaan generasi muda sebagai pemilih yang semakin dominan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Gibran harus mampu menarik perhatian generasi ini dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan dengan kehidupan mereka. Penggunaan media sosial dan platform digital dalam kampanye akan sangat menentukan, mengingat banyaknya pemilih muda yang aktif di dunia maya.

Keputusan Gibran untuk maju sebagai capres atau cawapres akan sangat bergantung pada berbagai faktor yang ada, termasuk situasi politik, dukungan partai, dan kesiapan dirinya sendiri. Apa pun pilihan yang diambil, Gibran harus tetap berkomitmen untuk membawa perubahan yang positif bagi bangsa ini. Dengan segala potensi dan modal yang dimilikinya, Gibran memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu pemimpin masa depan Indonesia yang dapat membawa harapan dan perubahan yang lebih baik.

Oleh karena itu, masa depan politik Gibran sangat tergantung pada langkah-langkah strategis yang diambilnya dalam beberapa tahun ke depan. Apakah ia akan memilih untuk mengambil tantangan sebagai capres yang menghadapi banyak risiko atau sebagai cawapres yang menawarkan peluang untuk belajar dan berkolaborasi? Hanya waktu yang akan menjawabnya, tetapi satu hal yang pasti, Gibran berada di jalur yang tepat untuk mengukir namanya dalam sejarah politik Indonesia.

Oleh: Rokhmat Widodo
Pengamat politk dan Kader Muhammadiyah Kudus
______________________________________
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan GELORA.ME terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi GELORA.ME akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini