Kuatnya Jokowi Effect

- Rabu, 25 Oktober 2023 | 17:31 WIB
Kuatnya Jokowi Effect


Itulah jawaban Anwar. Padahal, wartawan tidak mengulang pertanyaan yang sama dengan sehari sebelumnya. Melainkan, wartawan minta reaksi Anwar terkait perubahan nama jadi Mahkamah Keluarga. Dan, Anwar menghindari reaksi Mahkamah Keluarga, dengan merujuk pada jawabannya pada sehari sebelumnya.


Wajar juga Anwar tidak bereaksi tentang Mahkamah Keluarga. Karena perubahan itu sudah terjadi dan tidak harus dikomentari.


Sementara itu, Gibran terus maju. Ia sudah resmi diusung Cawapres mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Keputusan itu berdasarkan kesepakatan para ketum parpol Koalisi Indonesia Maju (KIM), Selasa, 24 Oktober 2023.


Dua hari sebelumnya, Presiden Jokowi sudah komentar soal putra sulungnya, Gibran, yang diusung cawapres oleh KIM. Jokowi sudah merestui Gibran.


Jokowi melalui akun YouTube Setpres, Minggu (22/10) menyatakan: "Ya, orang tua itu hanya tugasnya mendoakan dan merestui. Keputusan semuanya karena sudah dewasa, jangan terlalu mencampuri urusan yang sudah diputuskan anak-anak kita.”


Pernyataan yang sangat wajar. Tidak mungkin Jokowi melarangnya.


Kagak pakai lama, Gibran langsung bertindak. Setelah ia direstui sang ayah di ranah keluarga, dilanjut restu secara formal pemerintahan. Gibran selaku Wali Kota Surakarta, mengajukan surat izin ke Presiden RI, Joko Widodo. Surat sudah dikirimkan ke Kementerian Sekretariat Negara.


Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana, kepada wartawan, Selasa (24/10) mengatakan:


"Pada hari ini, Selasa, 24 Oktober 2023, Kementerian Sekretariat Negara telah menerima surat permohonan izin dari Wali Kota Surakarta, Mas Gibran Rakabuming Raka kepada Presiden RI, untuk dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik sebagai calon wakil presiden pada pemilu presiden dan wapres tahun 2024."


Alamak…. para pemain berputar di lingkungan keluarga. Jokowi punya adik, Idayati, yang isteri Anwar Usman, menghasilkan putusan (via Mahkamah Konstitusi) yang menguntungkan Gibran.


Inilah yang disorot lawan politik Jokowi. Kemudian Jokowi diserang lawan politik dengan berbagai strategi dan permainan Google Maps. menjadikan Indonesia heboh.


Di sisi lain, masyarakat ogah, bahkan para politikus cenderung mengabaikan, bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia pilihan rakyat, yang kini sangat disukai rakyat. Karena Jokowi bekerja dengan sepenuh hati. Sangat banyak karya Jokowi yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia.


Mulai pembangunan infrastruktur. Juga berani melawan Freeport. Berani melawan para kepala negara maju di dunia yang berniat menjadikan Indonesia sebagai eksportir bahan mentah hasil bumi. Jokowi menolak tanda tangan Perjanjian Supply Chain di G20 di Italia.


Dikutip dari pidato Presiden Joko Widodo dalam acara Puncak HUT PSI ke-7, Rabu 22 Desember 2021, Jokowi menceritakan, saat itu para kepala negara-negara maju sudah berkumpul di suatu ruangan. Menunggu kedatangan Jokowi hanya untuk teken perjanjian tersebut. Sedangkan isi surat perjanjian baru diserahkan ke Jokowi, menjelang ia masuk ruangan.


Setelah Jokowi membaca isinya, tentang melanjutkan Indonesia jadi eksportir bahan mentah, seperti yang sudah terjadi selama puluhan tahun sebelumnya, maka Jokowi balik kanan. Ogah masuk ruangan. Para kepala negara yang sudah menunggu, melongo. Dan pastinya marah.


Jokowi sudah menegaskan: Hilirisasi. Indonesia tidak bakal ekspor bahan mentah seperti dulu lagi. Melainkan, ekspor bahan jadi atau minimal setengah jadi.


Banyak karya Jokowi bermanfaat untuk rakyat Indonesia. Sehingga ia dicintai rakyat. Diakui atau tidak.


Terbukti, partai tua Golongan Karya pertama kali mengusulkan Gibran jadi Cawapres Prabowo Subianto. Karena Jokowi Effect. Karena, elektabilitas (yang berbau) Jokowi sangat tinggi. Dilanjut kemudian,  para ketua umum parpol Koalisi Indonesia Maju (KIM) juga mendukung Gibran jadi Cawapres Prabowo. Semua karena Jokowi.


Masyarakat sudah terpesona oleh hasil karya Presiden Jokowi, sembilan tahun ini. Menjadikan elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran melejit. Tapi, bukti konkrit hipotesis ini bakal kelihatan di Pilpres 2024. 


(Penulis adalah wartawan senior)

Halaman:

Komentar

Terpopuler